
Ratusan demonstran berbaris menuju istana Presiden Afghanistan Hamid Karzai di ibukota Kabul, Jumat ini (24/2), pada saat hari keempat protes meletus mengecam pembakaran Al-Quran di sebuah pangkalan NATO.

Surat kabar New York Times hari Kamis kemarin (23/2) melaporkan insiden pembakaran Al-Quran yang dilakukan militer AS di Afghanistan sehingga memicu krisis serta kerusuhan, tidak akan berakhir dalam waktu dekat.
Salah seorang penunjuk perasaan tercedera oleh tembakan polis, saksi melaporkan. Polisi menembak ke udara untuk mencoba membubarkan kerumunan warga yang marah dengan melemparkan batu dan meneriakkan "Matilah Amerika!" dan "Hidup Islam!" setelah mereka meninggalkan Masjid Biru setelah shalat Jumat. Kerumunan massa sekitar 700 orang juga berkumpul di kota timur Jalalabad dan provinsi tenggara Ghazni, di mana massa meneriakkan "Kami akan membela Quran!," Saksi mata mengatakan kepada Reuters. "Meskipun demonstrasi damai adalah hak masyarakat, kami sangat mendesak negara sepenuhnya menghindari protes berubah menjadi aksi kekerasan," kata Juru bicara Kementerian dalam negeri Afghanistan Sediq Sediqqi. Kebanyakan warga Barat berdiam di dalam kompleks yang dijaga ketat, termasuk di kedutaan misi diplomatik AS. Kedutaan AS, dalam pesan di situs microblogging Twitter, mendesak warga AS untuk tidak keluar dari kompleks mereka dan tidak melakukan perjalanan di wilayah Afghanistan untuk menghindario hal-hal yang tidak diinginkan.(fq/reu)@eramuslim


0 comments:
Post a Comment
Sudi-sudilah memberi komen, cpj sangat-sangat menghargainya.