
Pada tanggal 25 Februari 1994, saat ratusan jamaah Muslim sedang menunaikan ibadah sholat subuh di Masjid Ibrahimi di pusat kota Hebron, seorang teroris Yahudi-Amerika dengan nama Baruch Goldstein masuk ke masjid dari pemukiman Kiryat arbaa, menembak jamaah dengan peluru senapan mesin, menewaskan sedikitnya 29 orang dan melukai banyak jamaah lainnya.
Teroris, yang menggunakan senapan militer Galilion, ingin membunuh sebanyak mungkin orang yang tidak bersalah dan sebanyak mungkin berusaha menciptakan teror massa di seluruh kota, yang terbesar di Tepi Barat. Motifnya adalah menteror orang Arab, yang merupakan 99,5% dari populasi kota.
Pihak berwenang pendudukan Israel, membantah terlibat atau berkolusi dengan pelaku pembantaian.
Para pejabat Israel, termasuk Perdana Menteri Ishak Rabin mengaku pembantaian itu ibarat guntur di siang hari yang cerah. Namun, sulit untuk dipercaya bahwa teroris tersebut bisa mencapai lokasi yang dilindungi tanpa diam-diam berkolusi dengan tentara Israel yang ada di lokasi.
Goldstein sendiri akhirnya bisa dilumpuhkan dan dibunuh oleh jamaah, karena dikhawatirkan ia masih akan membunuh lebih banyak jamaah. Anehnya, banyak para pemimpin pemukim Yahudi dengan berani berusaha untuk menuntut sera menangkap mereka yang bertanggung jawab atas kematian Goldstein.
Banyak pemimpin agama Yahudi memuji pembunuhan massal yang dilakukan oleh Goldstein, bahkan menyebut dia seorang santo besar dan pahlawan. Bahkan sebuah monumen mengabadikan dirinya didirikan di Kiryat arbaa dan peziarah Yahudi peziarah dari California datang untuk memberikan penghormatan untuk makamnya.
Goldstein juga dipuji oleh banyak rabbi , dengan alasan bahwa tindakannya memang pantas dilakukan karena telah membunuh orang kafir atau Goyem.
Seorang rabbi, ketika ditanya tentang diterimanya membunuh orang non-Yahudi yang tidak bersalah, mengatakan ia tidak menyesal tentang kematian orang-orang Arab yang tidak bersalah tetapi yang dia sesalkan tentang kematian lalat yang tidak bersalah!
Setelah pertumpahan darah ini, pemerintah Israel melakukan kampanye publik besar bertujuan untuk meyakinkan opini publik barat khususnya Amerika bahwa pemerintah Israel tidak berperan dalam pembantaian itu.
Klaim bahwa pembantaian itu mengejutkan pemerintah Israel terlalu luar biasa dan sangat tidak bisa dipercaya. Karena, pembantaian itu didahului oleh kampanye beracun dari hasutan terhadap warga Palestina oleh kalangan Talmudian.
Goldstein sendiri berafiliasi dengan sekolah keagamaan Zionis seperti yang diajarkan oleh Abraham Kook.
Menurut penulis dari "Fundamentalisme Yahudi di Israel," Israel Shahak dan Norton Mezvinsky (Pluto Press, 1999), Kook mengatakan bahwa "perbedaan antara jiwa Yahudi dan jiwa non-Yahudi-mereka semua berbeda dalam semua tingkatan dan lebih dalam dari perbedaan antara jiwa manusia dan jiwa-jiwa ternak. "
Satu kelompok berada pada akar dan sifatnya "benar-benar jahat." Sementara yang lainnya adalah "benar-benar baik." Sejumlah kalangan rabbinik menyatakan aksi Goldstein banyak mengutip dari Perjanjian Lama dan Talmud, yang membenarkan genosida terhadap non-Yahudi pada umumnya dan Palestina pada khususnya.
Goldstein adalah pengikut dari Rabbi Meir Kahana yang sangat rasis, yang percaya perlunya pembersihan etnis warga Palestina dari sungai Yordan hingga Mediterania. Pada tahun 1978, ia menulis sebuah buku berjudul "Mereka Harus Pergi." Empat belas tahun kemudian, setelah pidato di sebuah hotel New York City, di mana ia menyerukan mencabut semua orang Palestina dari Palestina-Israel, Kahana dibunuh.
Hari ini, 18 tahun kemudian, setelah Goldstein sudah tidak ada lagi, namun "Goldsteinism", yaitu sikap kebencian anti-Palestina dan balas dendam, masih hidup dan sehat di antara para pemukim yahudi.
Beberapa tahun yang lalu, Daniella Weiss, pemimpin pemukim yahudi, mengunjungi Hebron untuk mendorong penghuni liar pemukim, yang telah mengambil alih properti Arab di kota itu, untuk melawan upaya pemerintah untuk mengusir mereka.
Weiss, mantan walikota sebuah pemukiman di Tepi Barat utara, secara luas mengutip dari ayat-ayat Perjanjian Lama yang mendesak warga Israel untuk membantai setiap pria, wanita dan anak-anak. Menurut Weiss, "ini satu-satunya cara untuk berurusan dengan orang Arab."
Setelah pembantaian itu, tentara pendudukan Israel menempatkan, semua warga Hebron, orang Arab, bukan pemukim, di bawah jam malam yang paling keras dan terpanjang yang pernah diberlakukan sejak dimulainya pendudukan pada tahun 1967.
Dan hari ini situasi keseluruhan di Hebron serta seluruh wilayah pendudukan adalah sangat mirip dengan situasi pada malam pembantaian Masjid Ibrahimi 18 tahun yang lalu.(fq/pic)@eramuslim


0 comments:
Post a Comment
Sudi-sudilah memberi komen, cpj sangat-sangat menghargainya.